Sejarah

Jejak Galangan Kapal di Jepara Abad Ke-16

Ilustrasi galangan kapal tradisional 
(Sumber: Istimewa)

Melacak jejak Maritim di Jepara pada abad ke-16 hingga abad ke-17 menunjukkan bahwa Jepara mempunyai posisi strategis dalam perdagangan internasional
Keberadaan pelabuhan yang aman dan nyaman serta terletak pada posisi strategis menjadikan Jepara mempunyai daya tarik tersediri yang menghubungkan dengan dunia luar. Di sisi lain, kekuatan ekonomi Jepara ditopang dengan komoditas hasil pertanian berupa beras dengan harga yang kompetitif, serta industri galangan kapal yang dikembangkan oleh Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat.Namun, keberadaan pelabuhan Jepara juga diwarnai dengan berbagai peristiwa yang mengakibatkan pelabuhan tersebut pernah tidak difungsikan. Menurut berita-berita Portugis, setelah penyerangan Pati Unus, lambat laun Kota Jepara tidak difungsikan lagi. Bahkan, pada tahun 1521 Kota Jepara terlepas dari kekuasaan Demak dan kembali diperintah oleh seorang penguasa yang masih dalam terminologi kala itu tergolong “kafir”. 


Setelah tampuk kekuasaan Demak berada di tangan Sultan Trenggana, ia berhasil memperluas wilayah Kerajaan Demak. Hal ini tidak lepas dari kekuatan militer laut dengan armada perangnya. Melalui laut Jepara, Demak berhasil menjadi wilayah yang kuat secara ekonomi, politik dan militer. Sumber Portugis menyebutkan, Ratu Kalinyamat juga pernah bertugas sebagai utusan Sultan Trenggana, ayahnya sendiri, untuk bertemu dengan penguasa Banten. Misanya mengajak Kesultanan Banten dalam ekspedisi ke Jawa Timur. Dalam pertemuan tersebut Ratu Kalinyamat dan Sultan Banten juga membahas siasat perang dalam menghadapi kekuatan pasukan yang berada di Jawa Timur. Tidak kurang dari 40 buah armada perang laut milik Kasultanan Banten dan 700 prajurit, meninggalkan Banten untuk bergabung dengan armada perang Kasultanan Demak yang sudah menunggu di pelabuhan Jepara.

Hal ini disampaikan oleh Mendez Pinto seorang Portugis yang ikut dalam iring-iringan kapal Ratu Kalinyamat. Pada tahun 1545, Pinto datang ke Banten dengan menumpang perahu jung dari Goa. 

Sementara tinggal di kota bandar tersebut, datang seorang wanita terkemuka yang bernama Nyai Pombayu, sebagai utusan Raja Demak, maharaja seluruh Pulau Jawa, Bali, Kangean, Madura, dan semua kepulauan di sekitamya. Kedatangan Nyai Pombayu ini diutus oleh Raja Demak untuk memberi tahu kepada bawahannya, Taragil Raja Sunda, bahwa dalam waktu setengah bulan ia harus menghadap untuk mempersiapkan ekspedisi melawan Pasuruan di Jawa Timur. 

Persiapan yang telah dilakukan Raja Banten berupa 40 buah kapal dengan 700 orang awak kapal. Jumlah ini masih ditambah dengan bergabungnya 40 orang Portugis. Dengan bantuan itu, Portugis mengharapkan memperoleh kemudahan dalam perdagangan. 

Pada 5 Januari 1546 bersama Ratu Kalinyamat berangkat ke Jepara. Setelah 14 hari menyisir pantai utara Jawa, konvoi militer itu akhirnya tiba di pelabuhan Jepara. Menurut berita laporan Mendez Pinto pada waktu itu di pelabuhan Jepara juga sudah disiapkan sebanyak 2700 armada perang terdiri dari 1000 kapal jung dan 1700 kapal dayung. Ditambah 80.000 prajurit.

Jung (perahu) Jepara 

Lukisan Jung Jawa yang pertama kali ditemukan berdasarkan catatan
pelayaran pertama Belanda di Nusantara pada 1587.
            (Sumber: William Lodewycks, 1915: 137, Supriyono dkk, 2013: 164)

Pelabuhan Jepara mampu menampung ratusan kapal atau jung dengan jumlah yang sangat besar. Di Pelabuhan Jepara inilah armada atau perahu-perahu atau jung-jung Jawa dimodifikasi dan dipersenjatai sedemikian rupa sehingga menjadi armada perang. 

Armada Pati Unus yang terdiri dari 100 buah kapal, yang paling kecil beratnya 200 ton, pada 1 Januari 1513 melakukan penyerangan ke Malaka, meskipun mengalami kegagalan. Dari 100 buah kapal yang dikirim ke Malaka, hanya 8 buah yang dapat kembali ke pelabuhan Jepara. 

Armada perang Ratu Kalinyamat dalam ekspedisinya ke Malaka pada tahun 1573 juga dipersiapkan dari pelabuhan Jepara. Sebanyak 300 kapal perang, 80 di antaranya merupakan jung-jung dengan tonase 400 ton.

Selain sebagai bandar terbesar di utara Pulau Jawa, Jepara juga terkenal dengan industri galangan kapalnya. Beberapa sumber Portugis menginformasikan galangan kapal di Jawa Tengah/Timur sudah terkenal di Asia Tenggara pada abad ke-16. 

Hal ini dapat dimengerti karena di daerah Selatan Jepara di daerah pegunungan Kendeng/Kapur utara banyak terdapat hutan Jati. Dari daerah tersebut dihasilkan kayu jati dengan kualitas terbaik untuk dipakai membangun kapal. 

Kapal-kapal niaga dan dan kapal perang Kasultanan Demak adalah kapal-kapal jung model Tiongkok pada zaman Dinasti Ming yang dapat memuat 400 oang prajurit dengan kapasitas 100 ton.

Dengan keahlian membuat kapal atau jung, Jawa sudah tersohor sehingga Albuquerque membawa 60 tukang pembuat kapal pada waktu ia meninggalkan Malaka pada tahun 1512. Kapal yang dibuat di sini terbatas pada kapal-kapal kecil yang dapat muatan dengan tonase kecil. 

Albuquerque tidak menyebut di mana tempat galangan kapal Jawa tersebut, tetapi orang-orang Belanda yang pertama kali datang di Indonesia memberitahu bahwa Lasem, yang terletak antara pelabuhan-pelabuhan terkenal Tuban dan Jepara, dan yang dekat dengan hutan jati Rembang merupakan pusat industri galangan kapal ini. Karena bersama Rembang, Jepara memiliki banyak hutan jati di pedalaman. Menurut Tome Pires, para pedagang yang kaya dari berbagai daerah datang ke kedua tempat itu untuk membuat jung.

Berdasarkan sumber-sumber Portugis dan Belanda abad ke-16 dan ke-17 dapat diketahui ciri-ciri jung Jawa. Jung dibuat sama sekali tidak menggunakan bahan logam. Papan-papan disambung menggunakan pasak kayu atau bambu yang dimasukan ke dalam papan-papan kayu yang disambung. Lapisan ganda dari lambung tampaknya juga menjadi ciri umum kapal-kapal Asia Tenggara. 

Kapal Pati Unus mempunyai tiga lapisan papan yang dilapiskan dengan ketebalan 2 cm. Ciri-ciri lainnya adalah jung Jawa mempunyai dua kemudi pada dua sisi samping kapal, mempunyai tiang ganda antara dua sampai empat ditambah haluan simpul (tali) dan layar. Hal ini juga digambarkan oleh seorang pelaut Belanda yang bernama Jan Brandes berdasarkan pengalaman pelayarannya di Jawa antara 23 Januari 1779–26 Agustus 1785.

Pada abad ke-16 jung Jawa sudah dimodifikasi menjadi kapal perang dengan tonase mencapai 1000 ton. Jung  itu dibuat dengan menggunakan alat-alat yang masih sederhana seperti kapak, bor, pahat. 

Kapal Jawa memang dimodifikasi dari kapal dagang untuk menyerang Portugis di Malaka. Ketika pada tahun 1513, Adipati Unus perlu waktu 5 tahun untuk mempersiapkan armada perangnya. Persiapan ini dilakukan di Pelabuhan Jepara yang merupakan basis Angkatan Laut Demak.

Bahan Bacaan

  • H.J. de Graaf dan TH. Pigeaud, 1985, Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
  • Prof. DR. Ratno Lukito dkk, 2020, Ratu Kalinyamat, Naskah Akademik untuk Persyaratan Pengajuan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional, Yayasan Dharma Bakti Lestari.
  • Hadi Priyanto, 2018,  Ratu Kalinyamat, Reinha da Japara, Yayasan Kartini.
  • Chusnul Hayati dkk, 2007 Ratu Kalinyamat, Biografi Tokoh Wanita Abad XVI, Pemerintah Kabupaten Jepara.

Penulis: Ulil Abshor