Sejarah

‘Ondergrondse Acties’ di Pontianak Zaman Revolusi

Kapal-kapal Patroli Belanda yang bersandar di Pelabuhan Pontianak
(Sumber: NIMH Beeldbank)

Keberadaan kaum republiken yang bergerak secara bawah tanah  membuat pusing Pemerintah NICA dan aparatnya. Kerap melancarkan aksi sabotase bahkan hendak merebut Kapal Patroli milik Belanda pada 18 Oktober 1946 di Pontianak. 

Gelora aksi perlawanan kaum republiken terhadap kedudukan NICA di beberapa kota di Kalimantan Barat terjadi mulai bulan Oktober tahun 1946. Laskar Badan Pemberontak Indonesia Kalimantan Barat (BPIKB) pimpinan Mohammad Alian berhasil merebut Bengkayang selama sehari pada 9 Oktober 1946. 

Disusul laskar Gerakan Rakyat Merdeka (GERAM) pimpinan Gusti Muhammad Affandi Rani dan Bardan Nadi yang beraksi di Ngabang pada 11 Oktober 1946. Seakan tidak ingin ketinggalan dan ingin ikut ambil bagian, kaum-kaum republiken militan di Pontianak juga ingin melakukan hal serupa dengan menciptakan sabotase-sabotase yang menyulitkan NICA dan aparatnya. 


Pemberontakan dijalankan oleh pemuda-pemuda pro-Republik yang telah terkaderisasi lewat pembinaan-pembinaan secara bawah tanah oleh kader Pemuda Penyongsong Republik Indonesia (PPRI). Pembrontakan ini sebenarnya telah lama direncanakan, namun karena alasan kesiapan baru dapat dilaksanakan pada 18 Oktober 1946. 

Ada beberapa aksi yang akan dilakukan pada pemberontakan itu, yakni membakar Gedung Copra Fonds  di daerah Gertak I, penyerangan Penjara Sungai Jawi, penyerangan tangsi militer NICA dan yang paling fenomenal ialah merebut Kapal Djampea DO 12. Djampea bukanlah kapal sembarangan, meskipun minim informasi tentang kapal ini, M. Yanis dalam catatan hariannya yang dibukukan dalam Djampea: Novel Sejarah Perjuangan Rakyat Kalimantan Barat, menyebutkan kapal ini berjenis kapal patroli milik Belanda dengan senjata utama sneelvuurkanon 2 cm (meriam otomatis 20 mm). (1998: 161)

Pemberontakan ini dipimpin oleh Hamdi Moursal yang juga aktif di organisasi Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan dibantu oleh pemuda-pemuda eks-Kaigun Heiho. Khusus untuk merebut Djampea, gerakan ini juga dibantu oleh dua awak kapalnya dari kalangan pribumi yakni Laidjo bin Laidi Oetoe dan Tahir bin Oemar yang bersimpati pada perjuangan pemuda. 

Sementara itu, setelah dilakukan berbagai persiapan oleh pemuda, skenario pemberontakan dijalankan dalam beberapa tahap. Pertama, membakar Gedung Copra Fonds di Gertak I sebagai pengalih perhatian pasukan NICA. Dengan demikian, diharapkan brandweer (pemadam kebakaran) dan tentara NICA akan memusatkan perhatiannya ke tempat ini. 

Pembakaran dilaksanakan pada malam hari. Bila berhasil, listrik akan dipadamkan untuk keseluruhan kota dan api yang membesar terlihat dari kejauhan menjadi pertanda aksi pemberontakan telah di mulai. Tugas pembakaran ini dijalankan oleh A.M. Damhar, A.S. Djampi, Achmad Noor, Yacob Mahmud, Hamdy Moursal, dan sejumlah pemuda lain.

Kedua, setelah kebakaran besar terjadi di Copra Fonds maka Omar Saidi, Syarif Muhammad Kesuma Yudha, Yusuf Yatim, dan Arwi akan menaiki sekoci menuju ke Kapal DjampeaDi kapal itu sendiri telah menunggu Laidjo bin Laidi Oetoe dan Tahir bin Oemar, awak kapal Djampea yang sedianya akan membongkar kamar senjata dan dibagi-bagikan ke pemuda sebagai modal perjuangan. 

Ketiga, setelah kapal Djampea berhasil dikuasai maka dengan kapal itu pula pemuda yang terpilih memberangkatkan kapal itu mendekati tangsi militer NICA melalui Sungai Kapuas. Sesampainya di dekat tangsi militer NICA dan masuk dalam jarak tembak, segera Djampea akan memuntahkan isi meriamnya. Apabila rencana ini berhasil hancurlah tangsi militer NICA tersebut. 

Keempat, kelompok lain yang tidak ikut penyerangan tangsi militer NICA akan menyerang Penjara Sungai Jawi untuk membebaskan tahanan politik atau kaum republiken yang ditahan tanpa alasan jelas dan tanpa proses pengadilan.

Sementara itu, dari arah Sungai Ambawang telah bersiap Kasan Gendon dan pengikutnya dari padepokan silat yang ia pimpin untuk bergerak ke Pontianak pada 18 Oktober 1946. Kasan Gendon diperintahkan untuk segera bergerak apabila mendengar suara tembakan (atau kebakaran besar) dari arah Pontianak. 

Sosok Kasan Gendon sendiri sudah tidak asing di telinga para pejuang di Pontianak. Lelaki asal Ambal, Kebumen, Jawa Tengah tersebut telah masuk di Kalimantan Barat sebelum kedatangan Jepang. Ia telah menciptakan banyak pemuda-pemuda yang sadar kemerdekaan Indonesia melalui rumah padepokan silatnya. Sehingga melalui ilmu silat yang ia ajarkan dapat digunakan untuk berjuang melawan penjajah. Pasca kemerdekaan, rumah padepokannya menjadi semacam markas tempat berkumpulnya kaum republiken untuk melakukan diskusi dan melakukan perlawanan terhadap NICA.

Hari yang ditunggu-tunggu tiba dan rencana yang matang ini telah disusun. Segera untuk tahap pertama Gedung Copra Fonds akan dibakar habis sebagai pertanda dimulainya pemberontakan. Akan tetapi, rencana tahap pertama ini justru berbuah kegagalan, sehingga menyebabkan rencana pemberontakan ini secara keseluruhan juga mengalami kegagalan. 

Pasalnya, pembakaran Copra Fonds tidak sesuai dengan harapan. Api tidak sempat membesar. Asapnya yang membumbung tinggi dan pemutusan aliran listrik sebagai tanda dimulainya pemberontakan tidak tercipta. 

Musababnya, seorang pedagang Tionghoa yang kebetulan berada di sekitar Copra Fonds langsung berteriak-teriak meminta bantuan menyatakan ada kebakaran sebelum api membesar. Dalam waktu singkat dikirim pasukan NICA untuk memadamkan api tersebut. Api berhasil dipadamkan, sedangkan pemberontakan itu padamlah juga dengan sendirinya.

Usaha-usaha sabotase pada instalasi militer NICA tidak berhenti setelah aksi bulan Oktober itu gagal. Kegagalan aksi dua bulan silam tidak memadamkan semangat mereka. 

Syafaruddin Usman dalam Di Bawah Lambaian Sang Merah Putih: Kisah Revolusi Kalimantan Barat 1945-1950 mengungkapkannya. Pada pertengahan Desember 1946 sejumlah pemuda seperti A.M. Damhar, Jacob Mahmud, dan Sai melempari Gudang Mesiu NICA di Jeruju dengan granat tangan. Harapannya gudang tersebut meledak hebat dan sejumlah suplai persenjataan serta amunisi Militer NICA hancur. Sayangnya, aksi ini juga mengalami kegagalan karena gudang itu dijaga amat ketat oleh Tentara NICA dan granat yang digunakan juga tidak sebanding dengan yang dibutuhkan untuk meledakkan gudang mesiu tersebut (2018: 13).

Setelah sejumlah aksi pemberontakan-sabotase yang dilancarkan para pemuda dan kaum republiken, NICA mulai melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai. Mesin intelejen Politieke Inlichtingen Dienst (PID) berjalan dengan efektif mengumpulkan informasi dan menyebarkan mata-mata untuk mengungkap aksi-aksi bawah tanah ini. 

Dalam tempo waktu tahun 1946 itu juga, sejumlah pemuda berhasil ditangkap. Sementara yang lain juga belakangan hari tertangkap. Pemerintah NICA menyebut aksi pemberontakan ini sesuai judul pada tulisan ini, Ondergrondse Acties dan Brontakaffairs. 

Penulis: M. Rikaz Prabowo